Perempuan yang Gamang
dalam Kumpulan Cerpen A. Badri AQT
Oleh: Henny Purnama Sari
ak banyak lelaki penulis fiksi yang mencoba masuk lalu memaparkan persoalan perempuan dalam karyanya. Yang banyak adalah lelaki penulis yang menuliskan berbagai hal tentang perempuan dari perspektif lelaki. Perempuan ditulis untuk memenuhi konsumsi pembaca lelaki atau masyarakat patriarkis. Lihat saja, majalah, program TV, dan iklan tidak sedikit membahas soal ‘keperempuanan’ dari perspektif patriarkis. Dari segala hal yang berkaitan dengan ketubuhan hingga pembagian peran yang mengarahkan perempuan menikmati tugas dan posisi ‘upik abu’ atau pekerja domestik. Domestikasi massal yang turun-temurun secara halus dan tak jarang tidak disadari baik oleh pelaku maupun objek.
Kali ini ada lagi satu penulis lelaki mencoba memaparkan persoalan perempuan dari basil renungannya yang bukan termasuk kategori di atas. la coba mengenali dan merasakan perempuan dengan memenetrasikan pikirannya pada tuhuh perempuan lantas menjadi perempuan itu. Setelah selesai, ia kembali keluar dari tubuh perempuan dan mengeluarkan impresinya terhadap pengalamannya tadi. Kini, masihkah ada jejak patriarkis yang meremah dalam tulisannya? atau malahan Anda justru terpesona setelah membaca karyanya itu?
Saya tak akan mengatakan reaksi seperti apa yang terjadi pada saya. ketika. membaca Kumpulan Gerpen A. Badri AQT yang didiskusikan pada acara rutin Komunitas Meja Budaya di PDS HB Jassin, penghujung Oktober lalu. Biar Anda saja yang mengategorikan sendiri setelah selesai membaca ulasan ini.
Enam dari sembilan cerpen yang diangkat dalam diskusi itu menyinggung persoalan perempuan, yakni Ketika Tembok Bui Tak Lagi Bicara, Audisi, Matinya Elang di Ranggas Dahan Randu, Rantau, Buntelan, dan Payau. Tiga yang tidak adalah Kamar Penitipan, Lelaki Tak Berkarcis di Gerbong Kereta Rel Listrik Dalam Kota, dan Mesin Fatokopi (kendati pada kedua cerpen yang disebut belakangan menyisipkan pula selintas kedudukan istri di tengah-tengah nilai patriarkis dalam berkeluarga).
Hampir seluruh kisah dalam kumpulan ini disampaikan oleh tokoh `aku’. Badri tampak ingin memasuki dan lebur dalam karakter tokoh-tokoh utamanya dengan penyebutan kata ganti orang pertama itu. Ia seolah sedang berusaha berperan sebagai Dasamuka dengan memasuki tokoh-tokoh utamanya yang variatif. Mulai benda mati, tahanan penjara, pencopet, perempuan remaja, pekerja bangunan dan sopir, perempuan mandiri, leiaki egois yang patriarkis, hingga perempuan yang membenci organ-organ keperempuanannya lantaran setiap kali berinteraksi dengan lelaki, selalu saja ia rasakan mereka menginginkan tubuhnya lebih dari jiwanya.
Perempuan-perempuan dalam cerpen Badri terutama di karya-karya terbarunya adalah orang-orang yang lelah berada dalam identitas perempuan bahkan sosial (socially constructed). Mereka terlihat gelisah, punya pemikiran sendiri, tegas dan berani ambil keputusan, mulai dari keputusan biasa yang tak sampai membuat pembaca berkerut-kening, hingga yang sungguh tidak biasa. Namun, mereka juga ternyata menyimpan kegamangan, ingin memberontak, tapi tak sanggup sepenuhnya menanggalkan konvensionalitas. Beberapa pengalaman yang membekas di hati penulis ini rupanya berhasil membuatnya merenungi kehidupan perempuan dan mencoba merasakan untuk bisa memahami. Bermula dari pengalamannya ketika berada di sebuah rumah tahanan. Di situ ia tertarik dengan seorang gadis sesama penghuni bui. Gadis itu acap masuk dalam khayalan-khayatan hasrat purbanya yang tertekan di balik jeruji bui. Hingga satu peristiwa membuat ketertarikan itu bertambah derajat menjadi simpati. Proses ini berawal dari rasa iba dan empati ketika sang perempuan mendapat malu lantaran pembaiut daruratnya terlepas jatuh di muka umum. Pengalaman ini langsung dituliskan Badri dalam Ketika Tembok Bui Tak Lagi Bicara. Peristiwa yang menimpa perempuan yang didalam cerpennya. diberi inisial RS itu membuatnya serta-merta membayanglcan seluruh perempuan di sekeliling dirinya, termasuk ibunya sendiri, yang pernah memiliki permasalahan yang sama dengan RS setiap bulannya. Barangkali lantaran baru memerhatikan soal macam ini, ia belum jauh melibatkan tokoh RS dalam cerpennya. RS hampir tak punya porsi peran dalam cerita ini, kecuali apa yang ada dalam perspektif si `aku’ dan balasan pesan untuk `aku’ yang berisi ucapan terima kasih telah berempati, ikut prihatin dan memberikan pembalut higienis yang praktis yang terasa membantu sekali dalam penjara.
Dari sini agaknya Badri tertarik untuk lebih jauh menggeluti kehidupan perempuan dalam cerpen-cerpennya yang lain. Hingga menghasilkan sebentuk pemahaman dalam dirinya bahwa perempuan selama ini memang tertindas dan terdominasi, juga ditindas dan didominasi, dalam berbagai segi kehidupan, utamanya ekonomi, politik, budaya, dan seksualitas. Lantaran itu sudah semestinya perempuan melepas ketertindasan itu dengan membebaskan benaknya melahirkan berbagai pemikiran dan penilaian, kritis, berani mengemukakan pendapat, pilihan dan mengambil keputusan.
Dalam Payau tokoh ‘aku’ yang perempuan sudah bebas menentukan pilihannya sendiri. la bebas memilih untuk menikah, lantas bebas memilih calon pasangan nikah, lalu ketika tidak lagi cinta, ia memilih bercerai (ada anak atau pun tidak) dan memilih untuk kembali ke masa lalu dengan menentukan tinggal di rumah orang tua (meskipun memilih kembali ke masa lalu dan tinggal bersama orang tua seperti ini, tanpa ada lagi pemasukan rutin, hanya tabungan yang masih tersisa, bagi masyarakat modern sesungguhnya sikap ini dinilai sebagai kemunduran).
Bebas memilih pun tercermin dari memilih untuk mengatakan tidak pada tawaran menikah ("Matinya Elang di Ranggas Randu”)
Justru sebaliknya, aku tak siap menerima tawaran yang mulia itu. Aku merasa itu cuma sebuah pelarian, pelarian untuk mengusai tubuh dan jiwaku dalam ikatan sebuah perkawinan. (Matinya Elang di Ranggas Randu (“MEDRR”)).
Ada nada sindiran pada bagian kalimat: `tawaran yang mulia itu’. Karena sesuatu yang dikatakan mulia itu ternyata tak mencerahkan, tapi justru gelap.
("…sebuah lorong kegelapan. Kegelapan jika kemudian aku harus mengatakan, "Ya!" menerima pada ketaksiaparrku. ").
Cerita kemudian banyak mengalir perihal ketubuhan. Seperti kalimat dalam kutipan MEdRR di atas. Segala permasalahan dalam hubungan perempuan dan lelaki berawal dari tubuh (entah mengapa yang dimaksud tubuh di sini cenderung tubuh perempuan. Tubuh lelaki tak pernah disentuh dalam cerpen-cerpen Badri). Oleh sebab itu segala penindasan terhadap ketubuhan harus dilawan. Perempuan harus memberontak!
Dan pemberontakan itu bukan berarti harus habis-habisan melawan secara fisik terhadap siapa pun yang dinilai membelenggu. Pemberontakan ke dalam pun digambarkan di sini bisa dilakukan. "Buntelan", salah satu cerpen yang memakai teknik penceritaan dengan dua perspektif utama (seperti novel NH Dini, Pada Sebuah Kapal, 2 perspektif untuk 1 peristiw-a yang dialami dua tokoh utama secara bersamaan) dan satu perspektif tambahan di bagian akhir, yakni perspektif narator, Tuhan, si serba tahu. Dua perspektif utama yang dimaksud adalah: 1. perspektif lelaki patriarkis yang mengedepankan ego dan tak berusaha memahami isi hati perempuan, hanya memikirkan kesenangannya sendiri, termasuk pikiran bahwa perempuan akan membuatkan dan menyediakan kopi ketika pasangannya baru bangun dari tidur, dan 2. perspektif perempuan yang berkarakter antara konvensional dan pemberontak.
Dalam cerpen ini sang tokoh utama perempuan adalah seorang yang memberontak dengan menyakiti tubuhnya sendiri. Pemberontakan yang dilakukan ini adalah pemberontakan kedalam. Kediri sendiri, kesemesta. Awalnya saya pikir, pemberontakan ini dimulai dengan memasrahkan tubuhnya berada di satu tempaf tidur bersisian dengan sang lelaki. Memasrahkan atau tak melawan dengan fisik apa pun yang dilakukan lelaki itu atas tubuhnya, hanya merasakan dan secara otomatis – sebagai peristiwa biologis – air mata keluar sebagai pendingin gundah hati karena merasakan sakit lantaran sang lelaki mewujudkan seluruh egonya di atas tubuh perempuan itu. Lalu diakhiri dengan menyakiti diri sendiri. Tak peduli lagi pada ketubuhan, materi, hal profan. la biarkan saja tindakan apa pun dilakukan atas tubuhnya (yang tentu mempengaruhi jiwanya), termasuk tindakan dari dirinya sendiri yang berusaha membelah menjadi subjek atas tubuhnya sendiri yang objek dengan menyakiti (hurting herselftself hurt) secara fisik itu. Ini kerap dikategorikan pada pemberontakan tertinggi lantaran dapat mengabaikan rasa sakit fisik layaknya seorang asketis.
Aku tak mampu bercermin lagi. Bibir, payudara, juga kelamin adalah seperangkat daging lunak yang hanya menjadikan tempelan semata, asesoris.
Begitu pun air mataku, air mata seorang perempuan yang menjerit hatinya, tak lagi berfaedah keluar di sela-sela kelopak mataku. Lantas untuk apa bila daging-daging lunak itu hanya jadi impian lelaki kala ingin menyalurkan hasrat-hasrat birahi Iantaran aku mau tidur di sisinya. Jika cuma, kucingkil mata, kusobek bibir, kupotang payudara, ku.sayat memekku. Dan aku ingin hidup tanpa dibebani daging-daging lunak itu. ("Bunteian’)
Tubuh perempuan seolah suatu asal yang perlu diteliti, dieksplorasi, dipilah-pilah untuk memastikan penyebab permasalahan. Dipilah disini pun bukan lagi sekadar konotatif.
Meski serangan terhadap fisik sendiri ini diawali oleh satu peristiwa yang membuatnya benci terhadap fisiknya sendiri (bukan terhadap fisik atau perbuatan si lelaki!) :
“Bugil tubuhku yang demikian, adalah bugil yang dibayangkan oleh laki-laki yang rawan birahi. Semakin jauh dan dalam aku memandang semakin benci menjadi-jadi."
“
Aku henci pada kelopak yang tak mampu mengisyaratkan bola. mataku dengan tangis penolakan dan perih hati ketika laki-laki yang masih tidur di ranjang itu terus saja menindih tubuhku semalaman"
"Bibir tipisku yang selalu berkesan basah hanya membuat kemuakanku, dimana pintu birahi dapat diawali dari sini"
Tetapi ternyata dugaan saya atas pemberontakan itu tak sepenuhnya tepat {di sinilah konvensionalitas tokoh terlihat}. Hanya bagian akhirnya saja yang teniyata pas. Sedang di bagian awal yang saya pikir si perempuan sudah melakukan aksi meremehkan ketubuhan, salah besar. Perempuan dalam cerpen ini yang tampak membiarkan si lelaki melakukan apa pun atas tubuhnya diceritakan sedang mengantuk, tubuhnya tak sanggup melakukan serangan balasan hingga tertidur yang agaknya tak terlalu pulas, sebab ia merasakan keperihan dan air mata pun keluar karenanya.
Memang aku tak rnenepis, kupikir hanya sebatas itu. Nyatanya kau perlakukan aku jauh dari itu, jauh apa yang kamu mau alas tubuhku. Antara sadar dan tidak sadar, aku merasakan ada sesuatu yang sakit di sisi bibir bawahku. Untuk menghilangkan rasa sakit, kupeluk saja kau agar kau menyudahi. Aku ngantuk, aku hanya ingin tidur di sisimu.
Sungguh. Aku memang benar-benar ngantuk. Aku pun tertidur. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang kau perbuat atas tubuhku.
Bermimpikan aku? Iantas sedikit kupicingkan mataku. Samar-samar aku menangkap wajahmu yang begitu menyeramkan tepat dimukaku. Aku takut. Teramat takut Iagi manakala kau menerkamku bagai wajah singa yang lapar. Aku terpasung dalam cengkramanmu. Merontapun sia-sia. Aku memejamkan mata serapat-rapatnya, serapat kau mendekap tubuhku. Segalanya sudah terjadi atas kuasa hirahimu terhadap tubuhku yang lemah, lalai ditengah kepercayaanku padamu." ("Buntelan")
Pada kalimat terakhir itu, lagi-lagi si tokoh perempuan menyatahi diri sendiri yang dirasanya lalai menjaga diri. Demikian pula pada penggalan; "Tanpa kusadari, kelopak mataku memejam tak kuasa menahan rembesan air mata keluar begitu saja. Aku menangis untuk diriku sendiri. Tak kutahu atas segala rasaku, menyesal dan tidaknya aku..". Sekali lagi ia menyalahi diri sendiri dengan akhir kalimat yang seperti ini: "…bisa-bisanya aku rnau tidur denganmu (yang liar, buas, lebih kuat, lebih cenderung menang, lebih berkuasa, mendominasi, hen)." Seolah yang harus selalu dipersalahkan adalah diri sendiri, si perempuan itu, bukan si lelaki.
Pemberontakan ke dalam diri cenderung mengacu pada segi spiritualitas; yakni sebagai pemberontakan tertinggi. Memberontak dengan cara yang paling halus. Tidak meledak, melainkan mengulum. Memasukkan ledakan itu ke dalam diri. Khusyuk dengan rasa sakit. Sakit yang dirasakan benar sehingga timbul rasa baru bersamaan dengan rasa sakit itu. rasa baru itu seolah berlawanan dengan sakit, karena timbul rasa suka terhadap rasa sakit itu. Semacam kenikmatan tersendiri. Rasa sebagai counter -pleasure, seperti yang dijabarkan McKendrick dalam bukunya dengan judul sama.. Di sinilah tampak sisi asketis (yang muncui dari sikap masokis, penikmat sakit}, sebuah Iaku spiritual. Sikap macam inilah yang dijalankan para tokoh-tokoh spiritual dari berbagai kepercayaan, termasuk tokoh politik India, Mahatma Gandhi dengan gerakan Ahimsanya.
Namun disisi lain, sebutan ini (pemberontakan tertinggi, spiritualis) patut pula dicurigai sebagai hiburan belaka baik oleh si pelaku untuk menyebut kondisi yang dirasakan dirinya sendiri maupun oleh orang lain untuk menyebut kondisi yang dirasakan si pelaku; agar si pelaku yang tak sanggup memberontak ke luar ini tidak terlalu kecewa karena ternyata pemberontakan ke dalam diri mereka sendiri dinilai sebagai pengorbanan tertinggi. Jadi, disini kelemahan dilihat atau disugestikan sebagai kekuatan; tentu untuk menghibur si lemah yang sebetulnya tak sanggup memberontak itu.
Seperti yang telah disebutkan pada jarak belerapa paragraf di atas, selain memiliki keberanian, para perempuan dalam cerpen Badri juga menyimpan kegamangan, ingin memberontak, tapi tak sanggup menanggalkan konvensionalitas. Konvensional terlihat pada pandangan tokoh utama perempuan soal keperawanan yang di matanya adalah begitu fisik, yakni selaput dara di lubang vagina dan dianggapnya sebagai harta terbesar perempuan dan sudah seharusnya dijaga dengan baik oleh si perempuan itu sendiri, sehingga koitus (yang atomatis dianggap sebagai pemusnahan keperawanan) hanya dianggap pantas dilakukan setelah menikah.
Kelaminku yang kujaga berhati-hati, temyata sebegitu saja lelaki itu merenggut hanya untuk melunasi gairah birahimu yang tak lagi bisa merasai keperihanku. Kelamin yang notabene disamarkan menjadi kemaluan, hanya membikin maluku saja bila suatu hari ada Ielaki lain setelah tahu diriku tak perawan lagi. ("Buntelan").
Tubuh perempuan dianggap mengandung sesuatu yang berharga yang setiap lelaki ingin mengambilnya. Lantaran itu perempuan harus menjaganya baik-baik agar sesuatu yang berharga itu tidak dicuri.
Untungnya aku masih bisa menahan dan menjaga kehormatanku sebagai perempuan.
Sejak itu aku harus berhati-hati menjaga kehormatanku, sejak itu pula aku merasa henei keasapa aku dilahirkan sebagai perempuan yang semata-mata harus menjaga kehormatan, tidak seperki laki-laki yang seenaknya mengumbar kehormatannya.
"Semua laki-laki itu, tak beda dengan k-ucing," kata temanku yang lainnya lagi ketika curhat padaku dimana ddcecawakan pacarnya. "Kalau lelaki belum mendapatkan apa yang dimau, seratus tahun pun siap menunggu sasaranya, sedetik saja kita lengah, musnahlah apa yang kita jaga, dan si kucing itu akan melenggang dengan tenang bagai nabi yang bebas keliar masuk surga. Kita sebagai perempuan yang selalu dikorbankan, cuma jadi taiknya kucing!"
Rasa sakitnya yang dalam terhadap laki-laki dikarenakan keperawanannya di gondol kucing, kini menjadi sebungkah dendam. ("MEdRR")
Konvensianaiitas yang lain terlihat dari keberadaan anak. Pada pemikiran tokoh perempuan ini dan pemikiran orang kebanyakan, seorang perempuan sempurna semestinya memiliki anak dan salah satu organ tubuhnya, payudara, seolah diciptakan hanya untuk menyusui anaknya itu.
Payudaraku yang ranum, usia dua puluhan, tak ada lagi yang dapat kubanggakan. Adalah persiapan kebanggaanku sebagai calon ibu yang dapat memberikan kehidupan untuk bayi yang aku lahirkan. Aku bangga sebagai ibu yang normal, menyusui bayiku sendiri. Bayiku kan menyedot puting kiri-kanan susuku. Belum lagi tiba saat-saat indah ku impikan, impianku pun terpuruk oleh moncong lelaki yang semata.-mata cuma memandang keindahan yang bagiku kini jadi sima.
Begitupun tanpa aku memiliki memek, banyak perempuan bisa hamil dan melahirkan tanpa tergantung lewat lubang daging lunak itu. ("Buntelan’).
Dalam "Payau"; barangkali karena perkawinan dianggap sehagai bentuk penyatuan manipulatif dua manusia berlainan jenis, lantaran ujungnya dinilai hanya berkepentingan terhadap penguasaan atas tubuh dan jiwa (dalam hai ini perempuan), maka ‘aku’ memberantak terhadap ramah tangga yang dibangun bersama sang suami dengan eara mengajukan gugatan eerai dan menjalani kebebasan dengan caranya sendiri. Meski demikian masih pula tersisa (disisakan?) j11lat-Il11aI patriarkis dalant cerpen ini, yakni dengan tnengatakan bahwa sang suami tak bersalah apa pun terhadap komitznen rumah tangga mereka. Tidak selingk°uh, tidak lari dari tanggungjawab, dll. Hanya dengan alasan `sepele’: tak cinia lagi, sang istri mengajukazr cerai. Ini seolah ingin menggambarkan bahwa perempuan seringkali melakukan hal-hal yang tidak signifikan, tak penting, tidak masuk akal, hanya untuk memuaskan keinginan emosional sesaat. Sedang telaki bertingkah laku masuk di akal, rasional, beralasan.
Ironisnya, pemberontakan perempuan sebagai solusi permasalahan keterbelengguan, dalam cerpencerpen Badri cenderung berujung masalah baru bagi perempuan. ‘Aku’ yang memutuskan terpisah dari suaminya dan kembali ke lingkungan masa remajanya, rumah orang tua, mengembalikan identitasnya ke masa-masa SW, masa-masa tomboy ("Payau’). Dengan kembali ke masa lalu seperti itu ia seolah tak sanggug menghadapi hari ini oleh karena itu tak pernah siap dengan hari esok. Keberaniannya mengambil keputusan mengandung sebentuk ketakutan. Meiigapa tidak hadapi saja apa yang akan terjadi, kekinian dan masa depan? Mengapa juga harus menjadi seperti lelaki dengan menjadi tomboy (yang digambarkan berambut pendek, bercelana jeans pendek dan kaus oblong dan singlet?). Apakah dengan begitu berarti kelelakian adalah ikon kebebasan? Kesempurnaan? Apakah dengan menjadi perempuan (tidak tomboy) seperti apa adanya berarti tidak bebas? Belum merdeka? Apakah penulis ingin mengatakan bahwa kesetaraan hanya bisa terjadi jika ada kemiripan dengan pihak yang selama ini mendominasi? Mirip lelaki?
Jika memang demikian kesetaraan hanya mungkin kalau ada kemiripan atau kesamaan secara material (tubuh/penampilan dan sikap). Dalam cerpen ini perempuan hanya bisa setara dengan lelaki jika ia mirip lelaki secara tubuh/penampilan dan sikap. Lalu, mungkinkah berarti tidak akan pemah ada kesetaraan ketika perbedaan bentuk kelamin lelaki dan perempuan masih kontras seperti sekarang? Ini perlu perenungan lebih dalam.
Hal penting lain yang perlu dicatat, bergaya seperti lelaki pun mengundang protes bahkan dari keluaiga sendiri lantaran pakaian lelaki seringkali tak menutupi apa yang dianggap sebagai aurat perempuan. Betapa serba salahnya perempuan di dunia di mana ide patriarkis begitu mendominasi.
"Di rumah ini bukan hanya dihuni oleh perempuan, tapi juga ada laki-laki disini, bapakmu dan dua adikmu, meskipun mereka keluarga kita sendiri."
Aku tahu maksud ibuku itu. Agar aku bisa menjaga dan melindungi aural tubuhku dari pandangan laki-laki, termasuk pandangan saudara laki-laki sendiri. Bukanicah hal-hal yang selama im cuma sebatas berita atau cerita bisa saja menimpa dan terjadi di rumah sendiri? Kasus pencabulan seorang bapak terltadap anak kandung atau anak tirinya, kerap kali menjadi berita kriminal di TV. Jika setan sudah merasuk hati manusia, setan "tak urus" kendati manusia melakukan hasrat binatangnya dengan sesama pertalian darahnya sendiri. ("Payau’)
Kendati legitu, ada satu cerpen, yaitu "Rantau", yang secara keseluruhan memperlihatkan bargaining power perempuan yang eukup tinggi. Ini takpak dari sikap scorang tokoh utama perempuan pada cerpen ini, istri Handoko, yang tak segan unfuk memenuhi keinginan purbawinya pada lelaki yang diam-diam menarik hatinya (seorang yang bekerja sebagai sopir keluarga).
Ada kejutan yang berhasil dalam eerpen ini: keluarga Handoko yang di awal r,erpen dikesankan harmonis, ternyata menyimpan kekisruhan. Sang istri selingkuh dengan sopirnya seperti ingin menandingi kebiasaan sang suami yang gemar berselingkuh. Tragisnya (atau beruntungnya?) sang suarni dipanggil Tuhan tak lama setelah kencan sang istri dengan sapir mereka untuk kesekian kali di sebuah hotel. Hm.
Kukusan, Beji, Depok 16425, Januari 2006