BUNTELAN 7 - SEJATINYA PEREMPUAN

April 21st, 2007 by imajinerku

SEJATINYA PEREMPUAN

Oleh: Sita Planasari Aquadini *

R

elasi perempuan dan lelaki seharusnyalah menjadi relasi yang setara. Toh nyatanya dalam konstruk sosial yang ada (dalam hal ini Indonesia), tidak. Beban gender, baik terhadap perempuan maupun lelaki ada dan dianggap sebagai tatanan yang mampu menjaga stabilitas kehidupan relasi tersebut.

Tentulah kita sering mendengar bahwa ketika perempuan memasuki jenjang pernikahan, mereka diharapkan menjadi perempuan suutuhnya. Berapapun penghasilan yang mereka peroleh dalam dunia kerja, begitu sampai di rumah, mesyarakat mengharapkan (dan memerintahkan) mereka untuk menjadi ibu rumah tangga yang sebenarnya. Hal ini dapat dilihat dalam Undang-Undang Pernikahan yang dimiliki Indonesia. Sebenarnya adalah mengasuh anak dan mengurusi tetek bengek rumah. Sekiranya terdapat kesalahan dalam perjalanan biduk rumah tangga, menjadi mudah untuk mengacungkan jari pada pemikulnya, perempuan.

Lelaki pun tak lepas dari beban itu. Sedari kecil pria tak diperkenankan untuk menangis.Tetesan air mata yang mengalir dari mata lelaki haram hukumnya kecuali dalam kondisi berkabung, lain tidak. Sedari kecil pula lelaki diperkenalkan pada segala sesuatu yang agresif, bermain perang-perangan dan olah raga keras menjadi kebanggaan. Lelaki yang hebat adalah selalu lebih baik dari pasangannya, perempun. Meski mungkin untuk menggapainya dibutuhkan pengorbanan tak terhingga, jiwa dan raga serta kelelakian itu sendiri.

Keresahan akan beratnya beban gender bagi kedua pihak menggelitik A Badri AQT. Dalam cerpen-cerpennya, Badri merasakan betul kegamangan akan peran yang harus dimainkan oleh setiap gender dalam konstruk sosial. Pergulatan batinnya terhadap masalah keperempuanan cukup lama ia rasakan. Namun sebuah pengalaman mengerikan yang dialami teman perempuannya di penjara tempat mereka tinggal suatu saat mampu menghantam dinding-dinding batin yang paling dalam.

Saat Badri terkurung dalam bui sekitar sepuluh tahun lalu, ia mengalami peristiwa keperempuanan yang mahadasyat. Di sebuah pertandingan ping pong, tiba-tiba sebuah lap dengan bercak kemerahan jatuh dari tubuh seorang tahanan perempuan. Kain itu adalah pengganti pembalut saat tiba datang bulan. Riuh rendah suara hinaan menggema dalam ruangan, menyisakan pengalaman pahit tak hanya bagi si perempuan tetapi juga bagi Badri.

Peristiwa menyedihkan ini kemudian tak mau berhenti mengganggunya sehingga memberi inspirasi pada cerita pendek bertajuk Ketika Tembok Bui Tak Lagi Berbicara. Dalam cerita ini sang tokoh, tahanan pria itu turut merasakan secara batin apa yang dialami oleh tahanan perempuan. Pria itu memang bukanlah seorang perkasa yang mampu menahan rasa malu untuk membantu sang perempuan. Paling tidak ia melakukan apapun yang dia rasa bisa sedikit meringankan derita sang perempuan.

Beban gender yang ditimpakan masyarakat pada lelaki muncul dalam Sepasang Mata Bola Yang Ditinggalkan Di Sisi Meja Rias maupun Rantau. Sang suami sebagai tokoh utama bukanlah lelaki kuat seperti yang diinginkan masyarakat. Ia tak malu untuk meluapkan perasaan secara feminine, yakni menangis. Hingga ketika sang istri memilih untuk meninggalkannya, ia tak melakukan hal-hal yang mungkin akan dilakukan para suami dalam komunitasnya. Lupakan dia dan cari perempuan lain!. Karena istri bagi dia tak sekadar perempuan dalam pandangan masyarakat yang merendahkan, tetapi partner utama. Dan kepergiannya membawa kehancuran. Sementara tokoh lelaki dalam Rantau hanyalah lelaki yang mengalir mengikuti tuntutan yang harus ia penuhi, menjadi seorang lelaki sejati dalam perspektif masyarakat. Meski hasilnya semu belaka.

Kesadaran akan harga diri sebagai manusia muncul dalam diri tokoh perempuan pada cerita Matinya Elang Di Ranggas Randu, Buntelan dan Payau. Di setiap cerita ini, para perempuan berusaha meretrospeksi kembali keberadaan mereka sebagai manusia dan sebagai perempuan. Bahwa setiap peristiwa yang terjadi, entah itu lamaran pernikahan, perkosaan hingga lunturnya cinta pada pasangan memiliki makna tersendiri dalam keperempuanan mereka dan bebas dari nilai-nilai yang berusaha dipaksakan pada mereka. Pilihan yang akhirnya mereka ambil, haruslah dihargai sebagai kemerdekaan betapapun ekstrim dalam limitasi masyarakat.

Membaca cerita pendek Badri sejatinya menjadi impian bagi setiap perempuan dan lelaki yang sadar akan integritas mereka. Bahwa perubahan harus diperjuangkan. Dan dalam hal ini perubahan dan pengurangan beban gender yang berabad-abad ditimpkan pada kedua pihak.

*penikmat sastra

BUNTELAN 6 - Perempuan yang Gamang

April 21st, 2007 by imajinerku

Perempuan yang Gamang

dalam Kumpulan Cerpen A. Badri AQT

Oleh: Henny Purnama Sari

T

ak banyak lelaki penulis fiksi yang mencoba masuk lalu memaparkan persoalan perempuan dalam karyanya. Yang banyak adalah lelaki penulis yang menuliskan berbagai hal tentang perempuan dari perspektif lelaki. Perempuan ditulis untuk memenuhi konsumsi pembaca lelaki atau masyarakat patriarkis. Lihat saja, majalah, program TV, dan iklan tidak sedikit membahas soal ‘keperempuanan’ dari perspektif patriarkis. Dari segala hal yang berkaitan dengan ketubuhan hingga pembagian peran yang mengarahkan perempuan menikmati tugas dan posisi ‘upik abu’ atau pekerja domestik. Domestikasi massal yang turun-temurun secara halus dan tak jarang tidak disadari baik oleh pelaku maupun objek.

Kali ini ada lagi satu penulis lelaki mencoba memaparkan persoalan perempuan dari basil renungannya yang bukan termasuk kategori di atas. la coba mengenali dan merasakan perempuan dengan memenetrasikan pikirannya pada tuhuh perempuan lantas menjadi perempuan itu. Setelah selesai, ia kembali keluar dari tubuh perempuan dan mengeluarkan impresinya terhadap pengalamannya tadi. Kini, masihkah ada jejak patriarkis yang meremah dalam tulisannya? atau malahan Anda justru terpesona setelah membaca karyanya itu?

Saya tak akan mengatakan reaksi seperti apa yang terjadi pada saya. ketika. membaca Kumpulan Gerpen A. Badri AQT yang didiskusikan pada acara rutin Komunitas Meja Budaya di PDS HB Jassin, penghujung Oktober lalu. Biar Anda saja yang mengategorikan sendiri setelah selesai membaca ulasan ini.

Enam dari sembilan cerpen yang diangkat dalam diskusi itu menyinggung persoalan perempuan, yakni Ketika Tembok Bui Tak Lagi Bicara, Audisi, Matinya Elang di Ranggas Dahan Randu, Rantau, Buntelan, dan Payau. Tiga yang tidak adalah Kamar Penitipan, Lelaki Tak Berkarcis di Gerbong Kereta Rel Listrik Dalam Kota, dan Mesin Fatokopi (kendati pada kedua cerpen yang disebut belakangan menyisipkan pula selintas kedudukan istri di tengah-tengah nilai patriarkis dalam berkeluarga).

Hampir seluruh kisah dalam kumpulan ini disampaikan oleh tokoh `aku’. Badri tampak ingin memasuki dan lebur dalam karakter tokoh-tokoh utamanya dengan penyebutan kata ganti orang pertama itu. Ia seolah sedang berusaha berperan sebagai Dasamuka dengan memasuki tokoh-tokoh utamanya yang variatif. Mulai benda mati, tahanan penjara, pencopet, perempuan remaja, pekerja bangunan dan sopir, perempuan mandiri, leiaki egois yang patriarkis, hingga perempuan yang membenci organ-organ keperempuanannya lantaran setiap kali berinteraksi dengan lelaki, selalu saja ia rasakan mereka menginginkan tubuhnya lebih dari jiwanya.

Perempuan-perempuan dalam cerpen Badri terutama di karya-karya terbarunya adalah orang-­orang yang lelah berada dalam identitas perempuan bahkan sosial (socially constructed). Mereka terlihat gelisah, punya pemikiran sendiri, tegas dan berani ambil keputusan, mulai dari keputusan biasa yang tak sampai membuat pembaca berkerut-kening, hingga yang sungguh tidak biasa. Namun, mereka juga ternyata menyimpan kegamangan, ingin memberontak, tapi tak sanggup sepenuhnya menanggalkan konvensionalitas. Beberapa pengalaman yang membekas di hati penulis ini rupanya berhasil membuatnya merenungi kehidupan perempuan dan mencoba merasakan untuk bisa memahami. Bermula dari pengalamannya ketika berada di sebuah rumah tahanan. Di situ ia tertarik dengan seorang gadis sesama penghuni bui. Gadis itu acap masuk dalam khayalan-khayatan hasrat purbanya yang tertekan di balik jeruji bui. Hingga satu peristiwa membuat ketertarikan itu bertambah derajat menjadi simpati. Proses ini berawal dari rasa iba dan empati ketika sang perempuan mendapat malu lantaran pembaiut daruratnya terlepas jatuh di muka umum. Pengalaman ini langsung dituliskan Badri dalam Ketika Tembok Bui Tak Lagi Bicara. Peristiwa yang menimpa perempuan yang didalam cerpennya. diberi inisial RS itu membuatnya serta-merta membayanglcan seluruh perempuan di sekeliling dirinya, termasuk ibunya sendiri, yang pernah memiliki permasalahan yang sama dengan RS setiap bulannya. Barangkali lantaran baru memerhatikan soal macam ini, ia belum jauh melibatkan tokoh RS dalam cerpennya. RS hampir tak punya porsi peran dalam cerita ini, kecuali apa yang ada dalam perspektif si `aku’ dan balasan pesan untuk `aku’ yang berisi ucapan terima kasih telah berempati, ikut prihatin dan memberikan pembalut higienis yang praktis yang terasa membantu sekali dalam penjara.

Dari sini agaknya Badri tertarik untuk lebih jauh menggeluti kehidupan perempuan dalam cerpen­-cerpennya yang lain. Hingga menghasilkan sebentuk pemahaman dalam dirinya bahwa perempuan selama ini memang tertindas dan terdominasi, juga ditindas dan didominasi, dalam berbagai segi kehidupan, utamanya ekonomi, politik, budaya, dan seksualitas. Lantaran itu sudah semestinya perempuan melepas ketertindasan itu dengan membebaskan benaknya melahirkan berbagai pemikiran dan penilaian, kritis, berani mengemukakan pendapat, pilihan dan mengambil keputusan.

Dalam Payau tokoh ‘aku’ yang perempuan sudah bebas menentukan pilihannya sendiri. la bebas memilih untuk menikah, lantas bebas memilih calon pasangan nikah, lalu ketika tidak lagi cinta, ia memilih bercerai (ada anak atau pun tidak) dan memilih untuk kembali ke masa lalu dengan menentukan tinggal di rumah orang tua (meskipun memilih kembali ke masa lalu dan tinggal bersama orang tua seperti ini, tanpa ada lagi pemasukan rutin, hanya tabungan yang masih tersisa, bagi masyarakat modern sesungguhnya sikap ini dinilai sebagai kemunduran).

Bebas memilih pun tercermin dari memilih untuk mengatakan tidak pada tawaran menikah ("Matinya Elang di Ranggas Randu”)

Justru sebaliknya, aku tak siap menerima tawaran yang mulia itu. Aku merasa itu cuma sebuah pelarian, pelarian untuk mengusai tubuh dan jiwaku dalam ikatan sebuah perkawinan. (Matinya Elang di Ranggas Randu (“MEDRR”)).

Ada nada sindiran pada bagian kalimat: `tawaran yang mulia itu’. Karena sesuatu yang dikatakan mulia itu ternyata tak mencerahkan, tapi justru gelap.

("…sebuah lorong kegelapan. Kegelapan jika kemudian aku harus mengatakan, "Ya!" menerima pada ketaksiaparrku. ").

Cerita kemudian banyak mengalir perihal ketubuhan. Seperti kalimat dalam kutipan MEdRR di atas. Segala permasalahan dalam hubungan perempuan dan lelaki berawal dari tubuh (entah mengapa yang dimaksud tubuh di sini cenderung tubuh perempuan. Tubuh lelaki tak pernah disentuh dalam cerpen-cerpen Badri). Oleh sebab itu segala penindasan terhadap ketubuhan harus dilawan. Perempuan harus memberontak!

Dan pemberontakan itu bukan berarti harus habis-habisan melawan secara fisik terhadap siapa pun yang dinilai membelenggu. Pemberontakan ke dalam pun digambarkan di sini bisa dilakukan. "Buntelan", salah satu cerpen yang memakai teknik penceritaan dengan dua perspektif utama (seperti novel NH Dini, Pada Sebuah Kapal, 2 perspektif untuk 1 peristiw-a yang dialami dua tokoh utama secara bersamaan) dan satu perspektif tambahan di bagian akhir, yakni perspektif narator, Tuhan, si serba tahu. Dua perspektif utama yang dimaksud adalah: 1. perspektif lelaki patriarkis yang mengedepankan ego dan tak berusaha memahami isi hati perempuan, hanya memikirkan kesenangannya sendiri, termasuk pikiran bahwa perempuan akan membuatkan dan menyediakan kopi ketika pasangannya baru bangun dari tidur, dan 2. perspektif perempuan yang berkarakter antara konvensional dan pemberontak.

Dalam cerpen ini sang tokoh utama perempuan adalah seorang yang memberontak dengan menyakiti tubuhnya sendiri. Pemberontakan yang dilakukan ini adalah pemberontakan kedalam. Kediri sendiri, kesemesta. Awalnya saya pikir, pemberontakan ini dimulai dengan memasrahkan tubuhnya berada di satu tempaf tidur bersisian dengan sang lelaki. Memasrahkan atau tak melawan dengan fisik apa pun yang dilakukan lelaki itu atas tubuhnya, hanya merasakan dan secara otomatis – sebagai peristiwa biologis – air mata keluar sebagai pendingin gundah hati karena merasakan sakit lantaran sang lelaki mewujudkan seluruh egonya di atas tubuh perempuan itu. Lalu diakhiri dengan menyakiti diri sendiri. Tak peduli lagi pada ketubuhan, materi, hal profan. la biarkan saja tindakan apa pun dilakukan atas tubuhnya (yang tentu mempengaruhi jiwanya), termasuk tindakan dari dirinya sendiri yang berusaha membelah menjadi subjek atas tubuhnya sendiri yang objek dengan menyakiti (hurting herselftself hurt) secara fisik itu. Ini kerap dikategorikan pada pemberontakan tertinggi lantaran dapat mengabaikan rasa sakit fisik layaknya seorang asketis.

Aku tak mampu bercermin lagi. Bibir, payudara, juga kelamin adalah seperangkat daging lunak yang hanya menjadikan tempelan semata, asesoris.

Begitu pun air mataku, air mata seorang perempuan yang menjerit hatinya, tak lagi berfaedah keluar di sela-sela kelopak mataku. Lantas untuk apa bila daging-daging lunak itu hanya jadi impian lelaki kala ingin menyalurkan hasrat-hasrat birahi Iantaran aku mau tidur di sisinya. Jika cuma, kucingkil mata, kusobek bibir, kupotang payudara, ku.sayat memekku. Dan aku ingin hidup tanpa dibebani daging-daging lunak itu. ("Bunteian’)

Tubuh perempuan seolah suatu asal yang perlu diteliti, dieksplorasi, dipilah-pilah untuk memastikan penyebab permasalahan. Dipilah disini pun bukan lagi sekadar konotatif.

Meski serangan terhadap fisik sendiri ini diawali oleh satu peristiwa yang membuatnya benci terhadap fisiknya sendiri (bukan terhadap fisik atau perbuatan si lelaki!) :

“Bugil tubuhku yang demikian, adalah bugil yang dibayangkan oleh laki-laki yang rawan birahi. Semakin jauh dan dalam aku memandang semakin benci menjadi-jadi."

Aku henci pada kelopak yang tak mampu mengisyaratkan bola. mataku dengan tangis penolakan dan perih hati ketika laki-laki yang masih tidur di ranjang itu terus saja menindih tubuhku semalaman"

"Bibir tipisku yang selalu berkesan basah hanya membuat kemuakanku, dimana pintu birahi dapat diawali dari sini"

Tetapi ternyata dugaan saya atas pemberontakan itu tak sepenuhnya tepat {di sinilah konvensionalitas tokoh terlihat}. Hanya bagian akhirnya saja yang teniyata pas. Sedang di bagian awal yang saya pikir si perempuan sudah melakukan aksi meremehkan ketubuhan, salah besar. Perempuan dalam cerpen ini yang tampak membiarkan si lelaki melakukan apa pun atas tubuhnya diceritakan sedang mengantuk, tubuhnya tak sanggup melakukan serangan balasan hingga tertidur yang agaknya tak terlalu pulas, sebab ia merasakan keperihan dan air mata pun keluar karenanya.

Memang aku tak rnenepis, kupikir hanya sebatas itu. Nyatanya kau perlakukan aku jauh dari itu, jauh apa yang kamu mau alas tubuhku. Antara sadar dan tidak sadar, aku merasakan ada sesuatu yang sakit di sisi bibir bawahku. Untuk menghilangkan rasa sakit, kupeluk saja kau agar kau menyudahi. Aku ngantuk, aku hanya ingin tidur di sisimu.

Sungguh. Aku memang benar-benar ngantuk. Aku pun tertidur. Selanjutnya, aku tak tahu apa yang kau perbuat atas tubuhku.

Bermimpikan aku? Iantas sedikit kupicingkan mataku. Samar-samar aku menangkap wajahmu yang begitu menyeramkan tepat dimukaku. Aku takut. Teramat takut Iagi manakala kau menerkamku bagai wajah singa yang lapar. Aku terpasung dalam cengkramanmu. Merontapun sia-sia. Aku memejamkan mata serapat-­rapatnya, serapat kau mendekap tubuhku. Segalanya sudah terjadi atas kuasa hirahimu terhadap tubuhku yang lemah, lalai ditengah kepercayaanku padamu." ("Buntelan")

Pada kalimat terakhir itu, lagi-lagi si tokoh perempuan menyatahi diri sendiri yang dirasanya lalai menjaga diri. Demikian pula pada penggalan; "Tanpa kusadari, kelopak mataku memejam tak kuasa menahan rembesan air mata keluar begitu saja. Aku menangis untuk diriku sendiri. Tak kutahu atas segala rasaku, menyesal dan tidaknya aku..".       Sekali lagi ia menyalahi diri sendiri dengan akhir kalimat yang seperti ini: "…bisa-bisanya aku rnau tidur denganmu (yang liar, buas, lebih kuat, lebih cenderung menang, lebih berkuasa, mendominasi, hen)." Seolah yang harus selalu dipersalahkan adalah diri sendiri, si perempuan itu, bukan si lelaki.

Pemberontakan ke dalam diri cenderung mengacu pada segi spiritualitas; yakni sebagai pemberontakan tertinggi. Memberontak dengan cara yang paling halus. Tidak meledak, melainkan mengulum. Memasukkan ledakan itu ke dalam diri. Khusyuk dengan rasa sakit. Sakit yang dirasakan benar sehingga timbul rasa baru bersamaan dengan rasa sakit itu. rasa baru itu seolah berlawanan dengan sakit, karena timbul rasa suka terhadap rasa sakit itu. Semacam kenikmatan tersendiri. Rasa sebagai counter -pleasure, seperti yang dijabarkan McKendrick dalam bukunya dengan judul sama.. Di sinilah tampak sisi asketis (yang muncui dari sikap masokis, penikmat sakit}, sebuah Iaku spiritual. Sikap macam inilah yang dijalankan para tokoh-tokoh spiritual dari berbagai kepercayaan, termasuk tokoh politik India, Mahatma Gandhi dengan gerakan Ahimsa­nya.

Namun disisi lain, sebutan ini (pemberontakan tertinggi, spiritualis) patut pula dicurigai sebagai hiburan belaka baik oleh si pelaku untuk menyebut kondisi yang dirasakan dirinya sendiri maupun oleh orang lain untuk menyebut kondisi yang dirasakan si pelaku; agar si pelaku yang tak sanggup memberontak ke luar ini tidak terlalu kecewa karena ternyata pemberontakan ke dalam diri mereka sendiri dinilai sebagai pengorbanan tertinggi. Jadi, disini kelemahan dilihat atau disugestikan sebagai kekuatan; tentu untuk menghibur si lemah yang sebetulnya tak sanggup memberontak itu.

Seperti yang telah disebutkan pada jarak belerapa paragraf di atas, selain memiliki keberanian, para perempuan dalam cerpen Badri juga menyimpan kegamangan, ingin memberontak, tapi tak sanggup menanggalkan konvensionalitas. Konvensional terlihat pada pandangan tokoh utama perempuan soal keperawanan yang di matanya adalah begitu fisik, yakni selaput dara di lubang vagina dan dianggapnya sebagai harta terbesar perempuan dan sudah seharusnya dijaga dengan baik oleh si perempuan itu sendiri, sehingga koitus (yang atomatis dianggap sebagai pemusnahan keperawanan) hanya dianggap pantas dilakukan setelah menikah.

Kelaminku yang kujaga berhati-hati, temyata sebegitu saja lelaki itu merenggut hanya untuk melunasi gairah birahimu yang tak lagi bisa merasai keperihanku. Kelamin yang notabene disamarkan menjadi kemaluan, hanya membikin maluku saja bila suatu hari ada Ielaki lain setelah tahu diriku tak perawan lagi. ("Buntelan").

Tubuh perempuan dianggap mengandung sesuatu yang berharga yang setiap lelaki ingin mengambilnya. Lantaran itu perempuan harus menjaganya baik-baik agar sesuatu yang berharga itu tidak dicuri.

Untungnya aku masih bisa menahan dan menjaga kehormatanku sebagai perempuan.

Sejak itu aku harus berhati-hati menjaga kehormatanku, sejak itu pula aku merasa henei keasapa aku dilahirkan sebagai perempuan yang semata-mata harus menjaga kehormatan, tidak seperki laki-laki yang seenaknya mengumbar kehormatannya.

"Semua laki-laki itu, tak beda dengan k-ucing," kata temanku yang lainnya lagi ketika curhat padaku dimana ddcecawakan pacarnya. "Kalau lelaki belum mendapatkan apa yang dimau, seratus tahun pun siap menunggu sasaranya, sedetik saja kita lengah, musnahlah apa yang kita jaga, dan si kucing itu akan melenggang dengan tenang bagai nabi yang bebas keliar masuk surga. Kita sebagai perempuan yang selalu dikorbankan, cuma jadi taiknya kucing!"

Rasa sakitnya yang dalam terhadap laki-laki dikarenakan keperawanannya di gondol kucing, kini menjadi sebungkah dendam. ("MEdRR")

Konvensianaiitas yang lain terlihat dari keberadaan anak. Pada pemikiran tokoh perempuan ini dan pemikiran orang kebanyakan, seorang perempuan sempurna semestinya memiliki anak dan salah satu organ tubuhnya, payudara, seolah diciptakan hanya untuk menyusui anaknya itu.

Payudaraku yang ranum, usia dua puluhan, tak ada lagi yang dapat kubanggakan. Adalah persiapan kebanggaanku sebagai calon ibu yang dapat memberikan kehidupan untuk bayi yang aku lahirkan. Aku bangga sebagai ibu yang normal, menyusui bayiku sendiri. Bayiku kan menyedot puting kiri-kanan susuku. Belum lagi tiba saat-saat indah ku impikan, impianku pun terpuruk oleh moncong lelaki yang semata.-mata cuma memandang keindahan yang bagiku kini jadi sima.

Begitupun tanpa aku memiliki memek, banyak perempuan bisa hamil dan melahirkan tanpa tergantung lewat lubang daging lunak itu. ("Buntelan’).

Dalam "Payau"; barangkali karena perkawinan dianggap sehagai bentuk penyatuan manipulatif dua manusia berlainan jenis, lantaran ujungnya dinilai hanya berkepentingan terhadap penguasaan atas tubuh dan jiwa (dalam hai ini perempuan), maka ‘aku’ memberantak terhadap ramah tangga yang dibangun bersama sang suami dengan eara mengajukan gugatan eerai dan menjalani kebebasan dengan caranya sendiri. Meski demikian masih pula tersisa (disisakan?) j11lat-Il11aI patriarkis dalant cerpen ini, yakni dengan tnengatakan bahwa sang suami tak bersalah apa pun terhadap komitznen rumah tangga mereka. Tidak selingk°uh, tidak lari dari tanggungjawab, dll. Hanya dengan alasan `sepele’: tak cinia lagi, sang istri mengajukazr cerai. Ini seolah ingin menggambarkan bahwa perempuan seringkali melakukan hal-hal yang tidak signifikan, tak penting, tidak masuk akal, hanya untuk memuaskan keinginan emosional sesaat. Sedang telaki bertingkah laku masuk di akal, rasional, beralasan.

Ironisnya, pemberontakan perempuan sebagai solusi permasalahan keterbelengguan, dalam cerpen­cerpen Badri cenderung berujung masalah baru bagi perempuan. ‘Aku’ yang memutuskan terpisah dari suaminya dan kembali ke lingkungan masa remajanya, rumah orang tua, mengembalikan identitasnya ke masa-masa SW, masa-masa tomboy ("Payau’). Dengan kembali ke masa lalu seperti itu ia seolah tak sanggug menghadapi hari ini oleh karena itu tak pernah siap dengan hari esok. Keberaniannya mengambil keputusan mengandung sebentuk ketakutan. Meiigapa tidak hadapi saja apa yang akan terjadi, kekinian dan masa depan? Mengapa juga harus menjadi seperti lelaki dengan menjadi tomboy (yang digambarkan berambut pendek, bercelana jeans pendek dan kaus oblong dan singlet?). Apakah dengan begitu berarti kelelakian adalah ikon kebebasan? Kesempurnaan? Apakah dengan menjadi perempuan (tidak tomboy) seperti apa adanya berarti tidak bebas? Belum merdeka? Apakah penulis ingin mengatakan bahwa kesetaraan hanya bisa terjadi jika ada kemiripan dengan pihak yang selama ini mendominasi? Mirip lelaki?

Jika memang demikian kesetaraan hanya mungkin kalau ada kemiripan atau kesamaan secara material (tubuh/penampilan dan sikap). Dalam cerpen ini perempuan hanya bisa setara dengan lelaki jika ia mirip lelaki secara tubuh/penampilan dan sikap. Lalu, mungkinkah berarti tidak akan pemah ada kesetaraan ketika perbedaan bentuk kelamin lelaki dan perempuan masih kontras seperti sekarang? Ini perlu perenungan lebih dalam.

Hal penting lain yang perlu dicatat, bergaya seperti lelaki pun mengundang protes bahkan dari keluaiga sendiri lantaran pakaian lelaki seringkali tak menutupi apa yang dianggap sebagai aurat perempuan. Betapa serba salahnya perempuan di dunia di mana ide patriarkis begitu mendominasi.

"Di rumah ini bukan hanya dihuni oleh perempuan, tapi juga ada laki-laki disini, bapakmu dan dua adikmu, meskipun mereka keluarga kita sendiri."

Aku tahu maksud ibuku itu. Agar aku bisa menjaga dan melindungi aural tubuhku dari pandangan laki-laki, termasuk pandangan saudara laki-laki sendiri. Bukanicah hal-hal yang selama im cuma sebatas berita atau cerita bisa saja menimpa dan terjadi di rumah sendiri? Kasus pencabulan seorang bapak terltadap anak kandung atau anak tirinya, kerap kali menjadi berita kriminal di TV. Jika setan sudah merasuk hati manusia, setan "tak urus" kendati manusia melakukan hasrat binatangnya dengan sesama pertalian darahnya sendiri. ("Payau’)

Kendati legitu, ada satu cerpen, yaitu "Rantau", yang secara keseluruhan memperlihatkan bargaining power perempuan yang eukup tinggi. Ini takpak dari sikap scorang tokoh utama perempuan pada cerpen ini, istri Handoko, yang tak segan unfuk memenuhi keinginan purbawinya pada lelaki yang diam-diam menarik hatinya (seorang yang bekerja sebagai sopir keluarga).

Ada kejutan yang berhasil dalam eerpen ini: keluarga Handoko yang di awal r,erpen dikesankan harmonis, ternyata menyimpan kekisruhan. Sang istri selingkuh dengan sopirnya seperti ingin menandingi kebiasaan sang suami yang gemar berselingkuh. Tragisnya (atau beruntungnya?) sang suarni dipanggil Tuhan tak lama setelah kencan sang istri dengan sapir mereka untuk kesekian kali di sebuah hotel. Hm.

Kukusan, Beji, Depok 16425, Januari 2006

BUNTELAN 5 - Manusia dan Lelaki dalam

April 21st, 2007 by imajinerku

Manusia dan Lelaki dalam

“Buntelan”

Sihar Ramses Simatupang

A

da sebuah gitar ngelangut sendiri. Ditinggal pemiliknya yang bernama Egora, dititipkan pada kawan si Egora, si Ali yang tak hobi main gitar malah hobi mengetik. Nah lho!

Bagaimana melukiskan perasaan si gitar? Perasaan sendiri, sunyi, karena tak kunjung disentuh?

Ini bukan kisah gitar yang terbuang, gitar yang dirusak, gitar yang dibanting. Kecuali gitar yang kesepian dan merasa sunyi. Gitar yang menunggu pemiliknya: si Egora. Gitar yang ditinggal Egora, sedangkan kawan si Egora yang bernama si Ali pun tak mau me-nyentuh.

Di sini bahasa kepenyairan diuji. Sepi yang tak kosong, sepi yang ngelangut, seperti desau angin yang merangkak tak kelihatan. Tak ter-lihat tapi ada, sunyi namun terasa. Harapan-nya, agar pembaca merenungi hubungan an-tara gitar dengan pemiliknya: tentang kerindu-an. Seakan metafora tentang perempuan yang mendamba lelaki. Perasaan kesendirian yang dimainkan.

Agak mirip dengan nasib si gitar, sepi dan kerinduan terasa juga pada si Elang yang mati saat hinggap di reranting pohon randu ketika mendamba pipit pada cerpen “Matinya Elang di Ranggas Randu”. Juga pada cerpen “Payau”, tentang rindu pertemuan antara laut dan sungai.

Seperti cerpen lainnya, ketiga cerpen tadi memang memilih gaya bertutur monologis, ke-timbang menghidupkan para tokoh untuk berdialog, sebagaimana layaknya panggung teaterikal. Tak ada tokoh sampingan yang “hidup” dan mengangkangi. Yang dominan a-dalah opini dan perasaan batin si tokoh utama.

Pilihan monologis itu jelas akan menarik bila dibalut dengan kemasan bahasa yang non-konvensional, kekuatan detailitas, sehingga o-pini dan pandangan si cerpenis tidak lagi me-nonjol di dalamnya, sehingga si pembaca ter-hipnotis dalam dunia tokoh utama.

Si cerpenis berusaha membangun suasana lewat bahasa, bagaimana asingnya ruangan penjara, bagaimana tatapan napi lelaki terhadap napi perempuan, suasana kelontang kaleng, kletak-kletok sepatu sipir, air tajin, kecoak, atau kasus pribadi si tokoh utama sebagai napi, agar si pembaca punya empati lebih dalam.

Hm, bicara soal perasaan.

Tapi apa gitar cuma bisa berkhayal dan men-damba pemiliknya? Apa Elang bisa menda-patkan Pipit hanya dengan mendamba? Apa kerinduan bisa tertuntaskan dalam sebuah air payau yang tak tawar dan tak asin, tak laut juga tak sungai? Apa mimpi si napi bisa diraih, tan-pa pernyataan?

Lantas dimana tubuh dan kenyataan?

Ah, dasar manusia….

***

Surealisme dan Tubuh

Suasana dialogis justru terlihat pada per-mainan surealisme Badri di dalam dua cerpen-nya: “Sepasang Bola Mata yang Ditinggalkan di Meja Rias dan Buntelan” adalah pilihan ber-beda yang dilakukannya.

Kausalitas antara alam pikir si tokoh dengan setting semacam itu, terasa begitu bebas di da-lam bentuk cerpen surealis. Badri mulai mem-biarkan “kehidupan” para tokohnya.

Sebut saja Buntelan, yang berisi kisah aneh seorang lelaki yang menyukai seorang perem-puan namun si perempuan pergi meninggal-kan wajah, bibir, kelamin. Perempuan yang memberikan organnya karena dia merasa, si lelaki hanya menikmati organnya saja, bukan orangnya!

Surealisme itu terasa ingin menyodorkan paradoks antara “perempuan” dan “organ tu-buh”. “Sepasang Bola Mata yang Ditinggalkan di Meja Rias” juga memperlihatkan seorang su-ami – ayah dari anak-anak mereka – yang men-jaga mata istrinya. Dia ingin agar si anak meng-hargai bola mata si ibu, jangan dibuat main kelereng. Karena itu mata ibu.

Ini eksperimen surealis yang agak berbeda karena lebih dialogis; si tokoh sampingan hidup dengan kehendaknya dan si tokoh uta-ma pasrah menerima kenyataan. Seorang pe-rempuan pergi meninggalkan mata, kelamin, pahanya buat si lelaki. Seorang isteri dan seorang ibu pergi meninggalkan bola mata bu-at suami dan anak-anaknya.

Tapi mengenang kekasih apa bisa hanya dengan mata, kelamin dan paha? Apa menge-nang ibu cuma lewat bola mata?

Dimana cinta dan kerinduan?

Ah, dasar lelaki…***

Depok, Akhir Mei 2006

BUNTELAN 4 - MENGAPA CERITA PENDEK

April 21st, 2007 by imajinerku

MENGAPA CERITA PENDEK

Oleh : Martin Aleida

K

ita bercerita karena ada yang ingin dikatakan kepada dunia di luar diri kita. Dan, barangkali, sebenarnya dengan bercerita kita tidak memerlukan sebuah dialog. Yang kita inginkan adalah timbulnya dampak berupa penafsiran atau bahkan munculnya khayal baru di dunia luar diri kita, di kalangan pembaca, sebagai akibat dari pembacaan atas cerita yang kita sampaikan. Apabila penafsiran atau khayal baru tersebut tidak muncul, maka cerita kita boleh dikatakan gagal. Karena bahasa yang kita gunakan, plot yang kita manfaatkan, ternyata hanya menghasilkan kumpulan kata dan alinea, yang boleh jadi bermakna, namun jelas tidak berbekas di hati pembaca.

  Tetapi, soalnya mengapa cerita pendek? Bukankah pilihan ini membuat kesempatan untuk menuturkan sebuah kisah yang diharapkan bisa menggugah dunia yang berada di luar diri kita jadi sangat terbatas? Memang, dengan nafas yang panjang, seorang penulis novel punya kesempatan untuk menggiring emosi pembaca secara lebih leluasa. Sementara seorang penulis cerita pendek secara sengaja mengungkung diri dalam keterbatasan ruang untuk tujuan yang serupa: berlayar bersama emosi dan pemahaman pembaca. Jadi, novel memanfaatkan kebebasan, cerita pendek sengaja menyiksa diri dalam keterbatasan.

  Tantangan bagi seorang penulis cerita pendek kedengarannya lebih besar. Seorang penulis cerita pendek berkewajiban menemukan sebersit citra yang bisa dikembangkan menjadi sebuah letupan yang merangsang emosi, dengan menggunakan keterbatasan kata untuk membuka kemungkinan penafsiran dan khayal yang tiada batas di benak dan sanubari pembaca. Sebuah novel menjelaskan, sementara sebuah cerita pendek hanya membersitkan (selenting) citra atau isyarat yang bisa membuka suatu kemungkinan tafsir dan khayal yang tak terbatas.

  Melalui “Buntelan,” A. Badri AQ.T. secara sengaja telah memilih pekerjaan yang musykil dari seorang penulis cerita pendek. Kesembilan cerita pendek dalam kumpulan tersebut menyerahkan nasib pada hati para pembaca apakah mereka mampu membuka tafsir dan memperluas khayal melebihi apa yang secara harfiah tertulis dalam ruang yang terbatas sebagai cerita pendek.

  Cerita “Sepasang Bola Mata Yang Ditinggalkan Di Sisi Meja Rias” merupakan sebuah surealisme tubuh yang menarik. Di dalam cerita ini terasa ada keliaran, di mana seorang istri meninggalkan sepasang bola matanya untuk sang suami dan anak-anaknya. Dia sendiri pergi tak tahu ke mana. Menjadi dramatis ketika si anak mengambil bola mata itu dan menjadikannya sebagai kelereng permainan. Surealisme yang menonjok emosi!

  Badri mempertaruhkan diri dengan membiarkan bola mata dipermainkan, sementara dia sendiri, sebagai si pencerita, menjadi penjaga moral dengan menyesali diri karena gagal mempertahankan keberadaan si istri untuk tetap di sampingnya dan anak-anaknya. Sehingga tampil kenang-kenangan yang begitu “brutal” yang harus dia dan anak-anaknya terima.

  “Kini dia meninggalkanku, juga meninggalkan Santo dan Santi. Susah payah aku mengejarnya untuk kembali, dia semakin bersikukuh, menghindar pergi sejauh-jauhnya dari kehidupanku.” Kutipan dari cerita tersebut barangkali membuka kemungkinan tafsir tentang apa yang terjadi.

  Sementara itu, empati pada si pencerita dan tanda tanya tak berkesudahan menjadi kekuatan pada cerita pendek “Ketika Tembok Bui Tak Lagi Bicara.” Si Aku penghuni penjara memberikan simpati yang dalam kepada tahanan perempuan yang menjadi tertawaan di kalangan penghuni penjara karena pembalut bulanannya tiba-tiba lengser dari “selangkangan celananya.” Kecelakaan ini terjadi ketika si tokoh perempuan sedang menyanyi dalam acara krida di penjara tersebut.

  Dengan susah payah, termasuk meminta bantuan kepada Ibunya yang datang membesuk, si pencerita mengupayakan pembalut baru dari dunia bebas, dan memberikannya kepada perempuan tersebut.

  Badri memancing khayal pembaca dengan menutup cerita dengan menempatkan perempuan tersebut dalam posisi yang membuat orang akan terus bertanya, karena dia tiba-tiba menghilang entah ke mana. Sebagai penghuni penjara, yang memperoleh tugas membagikan makanan kepada sesama penghuni penjara, kini si pencerita harus mencari perempuan itu di dalam hatinya sendiri. Pencarian ini bisa menjadi romantisme baru bagi si penghuni penjara, bisa juga menjadi siksa tambahan. Tergantung bagaimana para pembaca memaknainya.

  Sebuah cerita tak pernah lepas dari diri pengarangnya. Dia, sebagaimana dikatakan Badri sendiri dalam pengantar bukunya, merupakan hasil pengembaraan “imajiner” yang mensenyawakan fakta dan fiksi. Dikatakan atau tidak, sebuah cerita adalah pengaduan seseorang penulis kepada dunia di luar dirinya. Dan Badri tak lepas dari hukum kepengarangan ini. Dia berbagi pengalaman batin dengan para pembacanya, dan melalui sebuntelan ceritanya dalam kumpulan cerita pendeknya ini, Badri mencoba, dan mungkin berhasil, membuka kesempatan bagi pembaca untuk memperluas wilayah pengembaraan imajinasi berkat selenting citra yang disajikan Badri dalam sejumlah ceritanya.

Martin Aleida

penulis cerita pendek

CATATAN:

Tulisan ini di sampaikan dalam

Gelar diskusi “BUNTELAN” sejumlah cerita pendek

Di MP Book Point, Jakarta – 26 Januari 2007

BUNTELAN 3 - ANTI KLIMAKS MARJINALITAS

April 21st, 2007 by imajinerku

ANTI KLIMAKS MARJINALITAS

Oleh : Randu Rini*

Membaca beberapa cerpen dalam buku A. Badri Q.T ini, kita akan direkatkan kembali dengan kehidupan metropolitan. Kehidupan yang diisi oleh sekian ribu aktivitas kaum urban. Hampir seluruh cerita pendek dalam buku ini menceritakan tentang kehidupan kaum urban kelas bawah. Penyerapan detil Badri tentang renik dan asesoris hidup tokoh-tokoh utamanya merepresentasikan kedekatannya dengan masyarakat bawah. Cerita-cerita para tokoh dalam buku ini tidak steril, penuh dengan ketimpangan sosial, dan akhirnya menjadi sebuah drama-drama kecil yang tak pernah kita sadari di tengah arus kehidupan kota.

Dalam buku ini, Badri ini mengungkapkan bagaimana situasi kota sebenarnya. Walaupun penulis akui bahwa tema-tema ini cenderung sangat banyak diusung oleh cerpenis-cerpenis lain. Di sini Badri mengangkat tema-tema itu apa adanya, dengan alur anti klimaks yang tidak begitu istimewa atau malah bisa dikatakan monoton. Cerpennya pun menjadi tidak hidup sebagaimana kilau buram lampu-lampu kota. Kalaupun Badri ingin menceritakan keburaman itu, tampaknya dia tidak cukup mengangkatnya dalam cerpen-cerpennya. Marjinalitas kaum miskin kota dipaparkan dengan gamang. Ngilu itu tidak terbaca dan tidak terpeta dalam cerita-cerita Badri. Hal ini sangat disayangkan karena tokoh-tokoh Badri cukup mewakili profesi-profesi unik kaum urban kelas bawah. Tidak ada polemik yang lebih dalam antara tokoh-tokoh tersebut. Tidak ada benturan yang berarti. Padahal benturan adalah sesuatu yang dinanti-nanti dalam cerpen-cerpen yang bertemakan kehidupan kaum miskin kota.

Penulis juga mengerti bahwa Badri ingin menyajikan jebakan pikiran. Jebakan-jebakan pikiran dalam sebuah ending cerita menjadi kekuatan cerpen. Hal ini disadari dan dipakai betul oleh cerpenis-cerpenis seperti Seno Gumira Ajidarma atau Puthut EA. Dan jebakan-jebakan pikiran itu banyak ditemui di cerpen-cerpen yang bertema kota. Tadinya penulis mengharapkan benturan dan jebakan pikiran itu ada dalam cerita ”Lelaki Tak Berkarcis”, tetapi lagi-lagi Badri seakan membunuh ekstase di akhir cerita yang sebetulnya bisa lebih menarik karena pilihan ending yang dipakai sudah bagus.

Hingga akhirnya penulis pun menyimpulkan bahwa di dalam buku ini, Badri belum leluasa untuk bercerita. Belum banyak pula tema yang diaduk dan diolah oleh Badri untuk membuka mata pembaca tentang pernik persoalan marjinalitas manusia yang lebih baru lagi. Karena dengan itulah sebuah cerita pendek menjadi kuat.

Selamat untuk keluarnya kumpulan cerpen ini dan tetap semangat!

*Penulis adalah redaktur prosa www.cybersastra.net,

penulis lepas dan humas sebuah lembaga swadaya masyarakat di Jakarta.

BUNTELAN 1 - MEMILIH AKU DALAM CERPEN AKU

April 21st, 2007 by imajinerku

MEMILIH AKU DALAM CERPEN AKU

Yonathan Rahardjo

(Bedah Kumpulan Cerpen A Badri AQT oleh Rumpun Jerami di Mejabudaya,
Jumat 28 Oktober 2005. Buku Kumpulan Cerpen A Badri AQT "Buntelan"
ini diluncurkan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada Acara Lampion
Sastra 2, di Taman Ismail Marzuki, Jumat 6 Oktober 2006))

Siapakah aku sehingga kutuliskan semua begitu mudah ketika aku sudah bisa mengendapkan semua informasi, pengalaman, pemikiran, perasaan, kejadian-kejadian, tanda-tanda, gejala-gejala, segala sesuatu yang ada di sekelilingku dengan begitu penuh penghayatan, perasaan, penjiwaan, pendalaman, penelaahan? Lalu kutuang semuanya seperti air bah yang menderu, menggempur, mewabah, memporakporandakan setiap
hati yang punya mata, mata yang punya pikiran, pikiran yang punya perasaan, pengertian yang mengerti kata-kata yang kususun dalam frasa dan kalimat, kalimat dan alinea, alinea dan struktur bangun utuh cerita-cerita, cerita-cerita yang disebut cerita pendek hanya
karena begitu singkat dan tidak begitu rinci mengungkapkan semua kisah dan harapan dan cinta dan kepedihan dan kegalauan dan kemurungan dan hamparan-hamparan dan kesempitan-kesempit an dan sebaliknya dan sebagainya.

Demikianlah, `Aku’, menjadi semakin menjiwai segala sesuatu yang menggumpal di dalam kehendak untuk diwujudkan dalam suatu tindakan, membutuhkan `Hening Cipta’ untuk kemudian mencipta kehendaknya. Pada teori penciptaan pun mengenal pengertian ini. Lihatlah pada Alkitab yang menjunjung tinggi teori ini, pada permulaan penciptaan langit dan bumi yang tertuang dalam Kitab Kejadian pasal 1 dimulai dari ayat 1 di situ dikatakan "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang pun jadilah….." dan seterusnya mulai dari penciptaan hari
pertama sampai penciptaan hari keenam. Di situ terhadap semua proses hening cipta untuk berkarya, mencipta, berkreasi tersebut. Dan ada waktunya bagi pencipta itu untuk mengevaluasi, mengatakan baik tidaknya karya ciptaannya. Dalam beberapa penciptaan di Kitab Kejadian itu dikatakan, setelah karya jadi, "Allah melihat bahwa semuanya itu baik". Lalu Allah mencipta lagi. Ada proses pengendapan, kristalisasi, lalu katarsis untuk mencipta.

Proses pengendapan, hening cipta, menjadi suatu hal yang sangat penting proses penciptaan, menyatukan faktor ekstrinsik dengan faktor intrinsik untuk menghasilkan sesuatu. Dalam teori kedokteran hewan merupakan segitiga perpaduan antara faktor genetik, lingkungan dan manajemen/pengelola an (pakan dll) untuk bisa mewujudkan suatu persoalan penyakit bahkan ihwal pengelolaan penyakit. Dalam indoktrinasi Pancasila dalam era Orde Baru dalam mensosialisasikan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) bahkan disebut suatu kesatuan dari Cipta, Rasa dan Karsa. Dalam teori proses kreatif yang sering kita dengar dan baca dalam pembahasan proses
penciptaan karya sastra pun kita tahu pasti bagaimana seorang penulis memulaidan berhasil mencipta dengan menangkap tanda-tanda luar maupun proses dan tanda di dalam dirinya sendiri. Ketika semua masukan dan asupan ini menyatu dalam diri sendiri terwujud dalam suatu `Aku’ maka akan begitu mudah mengalirlah ciptaan demi ciptaan
yang tercipta dari diri pengarang.

Itulah dasar teori yang paling kuat untuk menangkap gejala yang ditampilkan oleh banyak pengarang termasuk A Badri AQT dalam 9 (sembilan) cerpennya yang tergabung dalam Kumpulan Sejumlah Cerita pendeknya. Semua ceritanya memakai cara penceritaan Aku sebagai pencerita, sekaligus subyek cerita setiap cerita:

1. Aku yang gitar yang menunggu dan `mencari’ pemiliknya yang telah meninggalkannya begitu lama, gelisah dan menunggu di kamarpenitipan sampai suatu ketika (Cerpen Kamar Penitipan);
2. Aku yang tukang foto kopi yang mendapat mesin fotokopi ketika peristiwa kerusuhan Mei 1998 terjadi,yang memberikan kejutan ternyata mesin fotokopi ini tanpa henti mencetak daftar korupsi, daftar korupsi, dan terus-menerus daftar korupsi yang sama setelah macet dalam pemfotokopian yang ke 100 dari dari daftar yang sama
(Cerpen Mesin Photo Kopi);
3. Aku yang narapidana yang peduli dan memberikan pembalut wanita kepada napi perempuan yang kemudian hilang meninggalkan kegalauan dan rasa kehilangan (Cerpen Ketika Tembok Bui Tak Lagi Bicara);
4. Aku yang penjambret di kereta yang begitu mudah tewas hanya karena pikiran tidak konsentrasi lantaran diperiksa oleh kondektur (Cerpen Lelaki Tak Berkarcis di Gerbong Kereta Rel Listrik Dalam Kota);
5. Aku yang pacar peserta audisi dangdut dan menggelisahkan keikutan sertaan wanitanya dalam kontes bokong goyang, yang akhirnya dikejutkan oleh kejutan bahwa ceweknya ini tidak jadi ikut kontesmenyerempet syahwat setelah ditunggu masuk Mushola bermukena `mungkin’ sembahyang dan berdoa (Cerpen Audisi);
6. Aku yang cewek yang tidak suka dan menolak cinta teman dekat dan bahkan pemuda yang menyatakan cinta padanya menyebabkan `kematian’ sang `Elang’ dengan begitu mudah (Cerpen Matinya Elang di ranggas Dahan Randu);
7. Aku yang tukang kebun dan sopir kepercayaan juragan yang kemudian malah melahap wanita istri juragannya ini (Cerpen Rantau),
8. Aku yang dipelacuri yang `mempersembahkan’ buntelan mata, payudara, bibir, dan vaginanya pada lelaki pelahapnya lantaran merasa suatu ketidakadilan dengan perlakuan lelaki yang menikmati lezat tubuhnya tanpa dia sendiri merasa memberikannya dengan
kesadaran dan keikhlasan (Cerpen Buntelan);
9. Aku yang perempuan yang kembali memilih ketomboian, kemandirian, kebebasan hidup dan gaya hidup dengan memilih menceraikan dan menceraikan suaminya setelah 3 (tiga) tahun berumah
tangga (Cerpen Payau).

Aku, ya, dengan menempatkan posisi tokoh utama cerita sebagai aku, dengan mudah Badri bercerita menjalin rangkaian, dengan melibatkan pula tokoh-tokoh pembantu cerita. Untuk menghidupkan cerita permasalahannya, mungkin ketidakhidupan tokoh-tokoh pembantu ini, mungkin terlalu leluasanya aku menjadi pusat penceritaan dan
masalah, mungkin beberapa kata yang tidak tepat penggunaannya, mungkin yang lain, mungkin yang lain dalam mengelilingi aku ini berkiprah menjadi tokoh yang betul-betul menguasai medan seperti Flu Burung yang betul-betul dijadikan kambing hitam sekaligus supertokoh dalam memporakperandakan peternakan di Indonesia yang kemudian merembet pada dugaan bahkan tuduhan korupsi oleh para pejabat pemerintah yang mengurusi kasus ini.

Bisa banyak masalah dalam cerpen-cerpen Badri, namun sebagai teatrawan yang tentu lumayan banyak baca karya sastra atau teater untuk penghayatan pementasan-pementas annya, seorang juara berbagai lomba deklmasi, seorang penyair, dan penulis cerpen di beberapa media massa ini, dari cerita-cerita yang tergarap dengan bahasa
lancar, kadang puitis (lihat Cerpen Buntelan;……….aku tak mampu bercermin lagi……………(paragraf baru), aku tak mampu bercermin lagi……………(paragraf baru), aku tak mampu bercermin lagi……………(paragraf baru), aku tak mampu bercermin lagi……………(paragraf baru), kadang-kadang menggelitik (contok bebek jawa koek, mesin fotokopi yang mencetak sendiri daftar koruptor, memberi pembalut wanita pada napi perempuan, keperawanannya digondol kucing, dan lain-lain yang bisa
diteliti), Badri sudah menunjukkan pengendapan dan keheningan batin dan pengalamannya yang dia sendiri yang tahu seluk-beluk hidupnya, ditambah beberapa teman yang hanya mendengar secuil cerita tentangnya baik secara langsung maupun tidak langsung dan secara yuridis tidak berhak untuk berbicara apapun tentang keheningan
pribadinya.

Maka mengerucut pada `aku’ yang tercipta pada cerpen-cerpen Badri, sepantasnya bagaimana mengetahui, memahami, menghayati aku dalam lingkaran terdekat, aku yang punya pribadi, aku yang punya jati diri, aku yang mengatasi masalah-masalahku, aku yang punya warna, aku yang tahu siapa aku, aku yang tahu visi,misi dan aksiku, aku
yang ada karena alas an-alasan tertentu. Celakanya dalam kenyataan, begitu banyak teori tentu aku, ada yang mengikuti teori aku berpikir maka aku ada (HomoSapiens, manusia berpikir), aku menjilat maka aku ada (lukisan Agus Suwage), aku adalah gambar dan peta Allah (keyakinan Kristiani), aku ada karena memangsa (HomoHomini Lupus),
aku adalah kesatuan tubuh,jiwa dan roh (Alkitab, dipakai John Steinbeck), aku dibilang gila oleh orang (Stefani Hidayat, Novel Mereka Bilang Aku Gila), Aku adalah Aku (Allah dalam Alkitab), aku keturunan monyet (Darwin), aku anak sehat (Kampanye Asi, Makanan Bergizi dan Imunisasi), aku ini binatang jalang (Chairil Anwar), dan
aku-aku yang lain oleh banyak aku, yang memang akunya begitu atau yang mengaku-aku, sampai lupa membedakan aku dengan saya, lebih mengutamakan keakuannya daripada kesayaannya dalam budaya berkomunikasi anak Indonesia saat ini.

Di Indonesia Aku pun pernah bermasalah dalam bingkai budaya nasional. Kalau Lekra mengutamakan dalam pengkaryaan segala sesuatu untuk kepentingan sosial komunal untuk kepentingan kemahslatan rakyat sehingga tokoh-tokoh aku dalam cerita-cerita karangan sastrawan Lekra, sedang Manifestasi Kebudayaan lebih mengutamakan
kebebsan berkreasi secara universal, kemanusiaan universal tanpa harus dalam bingkai karya yang bertujuan untuk revolusioner kerakyatan seperti Lekra, pada dasarnya aku dalam karya-karya siapapun kini punya genetik sendiri-sendiri, tak perlu mengikut dua
kubu ekstrim yang pernah menjada prahara budayanya Taufiq Ismail dan DS Moelyanto seperti ini. Karena terlau sempit untuk mendefinisikan aku kiri atau kanan, apalagi bagi generasi yang tidak tahu-menahu dan terlibat langsung dalam pertentangan keakuan dua kubu dalam sejarah budaya ini. Jelas Badri sama sekali tidak ada aku yang berpolitik dalam cerita-ceritanya. Aku dalam cerita Badri adalah aku manusia biasa, manusia sederhana, manusia sehari-hari, manusia yang menghadapi permasalahan- permasalahan bingkai kecil, bahkan bingkai personal, meski kadang nyerempet-nyerempet pada bingkai politik besar seperti pada cerita Mesin Photo Kopi yang secara tersirat melawan Politik Korupsi yang `mengkamuflasekan’ Rezim Orde Baru dengan bentukan pemerintahan baru.

Ada sikap-sikap aku yang muncul dalam cerita-cerita Badri yang mungkin secara tidak disadari mempunyai garis linier dalam menghadapi permasalahan- permasalahannya. Lebih bersifat pasrah secara tindakan terhadap suatu masukan ke dalam dirinya, masukan
dari dalam diri maupun dari luar diri. Meski, secara pergulatan batin menunjukkan perlawanan-perlawan an, protes, kegelisahan, kemurungan, pemberontakan. Namun, ketika diwujudkan dalam suatu endapan sikap, tidak menunjukkan suatu upaya untuk mengatasi masalah dari kacamata pemenang.

Dalam cerpen Penitipan, meski sang aku (gitar) merupakan benda mati yang hanya protes tentang `ketidakcintaan’ pemiliknya, mestinya Badri bisa menuliskan bagaimana gitar itu berjalan-jalan mencari pemiliknya untuk mengobati gelisah dan pengembaraan rindu dendamnya, tidak hanya sekedar duduk menunggu di kamar penitipan di kamar teman
sang pemilik. Bukankah ia sudah berimajinasi gitar itu bisa berpikir, berkata, iri kepada mesin ketik? Mengapa tidak sekalian menjadikannya surealis bisa berjalan-jalan dan menelisik setiap lorongtempat untuk mencari pemiliknya kalau ia benar-benar rindu
dendam?

Dalam cerpen Ketika Tembok Bui Tak Lagi Bicara, bukankah sang aku bisa mencari dan berupaya mencari di mana perempuan narapidana yang tiba-tiba begitu saja hilang setelah diberi pembalut wanita untuk mengganti kain sementara penyerap darah dari selangkangannya? Tidak sekedar heran danmempertanyakan dengan penuh rasa kehilangan?Dalam cerpen Lelaki Tak Berkarcis di Gerbong Kereta Listrik Dalam
Kota, bukankah aku yang penjambret bisa lari dengan lincah di sela-sela ketiak dan tubuh penumpang kereta begitu tahu kedatangan kondektur yang memeriksa karcisnya? Bukankah ia penjambret (maling) yang terkenal lebih pintar daripada yang dijambret (dimaling)? Begitu mudahnya penjambret ini takut berpikir pemeriksaan yang telah
menangkap basahnya, sehingga begitu mudah ia jatuh dari kereta dan mati.

Dalam cerpen Audisi, bukankah sang aku cowok yang mengantar pacarnya bisa diceritakan melakukan tindakan untuk protes, dan berargumentasi untuk mencegah pacarnya meneruskan niat jual pantat dalam kontes dangdut?

Demikian pula dalam cerpen Rantau di mana aku yang tukang batu dan sopir begitu mudahnya takluk pada hasrat untuk melahap perempuan istri juragannya, tidak ada perlawanan untuk menolak godaan. Dalam cerpen Buntelan pun, aku yang perempuan dipelacuri begitu mudah tidak sadar lalu direnggut `keperawanannya’ lalu sikap
protesnya hanya dengan mempersembahkan potongan organ-organ tubuhnya
yang dikiranya diobsesikan oleh lelaki pelahapnya.

Dalam cerpen Payau, begitu mudahnya aku perempuan itu kembali menjadi tomboi setelah tiga tahun berumahtangga, kembali mengikuti kata hati.

Kecuali Cerpen Photo Kopi yang terasa sukar untuk membahas aku yang tukang photo kopi tentang sikap yang ditunjukkan untuk menghadapi surealistik munculnya begitu banyak fotokopian para koruptor karena cerita memang sengaja dipuncakkan pada kejutan yang menyentak, cerpen-cerpen Badri yang lain patut disorot tentang
ketidakberdayaanpar a aku menyikapi masalah satu arah. Rata-rata masalah yang menyudutkan hanya satu, tidak tampak masalah lain, namun cara menyikapinya pun terasa satu cara: larut dan menuruti tuntutan satu masalah itu.

Apakah karena keterbatasan halaman untuk sebuah cerpen? Apakah karena sengaja difokuskan untuk memperdalam imajinasi permasalahan semacam itu? Apakah sengaja dibuat menggantungnya dan terpanggangnya hati dan rasa yang resah, untuk menikmati masalah yang mnenjadi begitu mendayu-dayu laksana pementasan teater yang menohok-nohok hati tanpa suatu solusi? Apakah dibiarkannya kata-kata mengguncang-guncangkan konsep seperti dikenal pada konsep sastra yang sengaja tidak memberi solusi positif terhadap suatu permasalahan, agar setiap masalah dibuka selebar-lebarnya segala kemungkinannya, sedang pengambilan solusi adalah soal di luar sastra sendiri?

Kalau jawabannya ya untuk suatu tujuan sastra yang multitafsir tentang suatu konsep atau norma, tentang sikap aku yang melayang-layang dalam gelisah alangkah baiknya bila berbagai alternatif cara pandang dan jalan keluar yang hendak ditempuh. Memang sikap pasif, protes ke dalam, pasrah ke dalam, bahkan bunuh diri tanpa perlawanan
ke luar adalah juga sikap perlawanan bahkan yang paling tinggi tingkatannya dalam suatu perlawanan terhadap suatu tekanan atau `ketidakadilan’ , seperti yang ditunjukkan dalam `Jamangilak Tak Pernah Menangis’-nya Martin Aleida, atau `Tangis Meutia’-nya KI
Thamrin, atau `Gadis dari Banda’ Hana Rambe. Namun bukankah perlawanan yang begitu ke dalam ini hanya layak disebut perlawanan tertinggi karena tidak perlawanan keluar tidak kuasa menghadapi beban dan tekanan yang begitu tinggi dan setelah perlawanan ke luar mengalami kegagalan?

Lalu melesat kepada soal aku, kalau aku dalam cerita-cerita `aku’ selalu kalah dalam menghadapi persoalan, pantaskah aku menyebut diriku `aku’? Bukankah kalau dari asal dan artinya aku lebih menunjukkan kepada kedirian, keyakinan diri tentang siapa orang
pertama, kebanggaan terhadap pribadi sendiri, sehingga untuk menyebut diri aku hanya pantas diberikan kepada diri sendiri di hadapan orang yang sederajat, lebih muda, lebih `rendah’, dan tidak berani atau tidak pantas menyebut diri aku di depan orang yang lebih
tua, lebih berkedudukan atau di depan Presiden? Sehingga sebagai ganti kata aku diganti dengan kata `saya’ yang berasal dari kata `sahaya’ yang berarti hamba untuk suatu kerendahan hati dan atau kerendahan diri?

Ataukah aku di sini sudah menjadi kata akrab dan mendiri? Barangkali memang ini masalahnya, dan masalah yang lebih besar dalam suatu karya sastra adalah menciptakan aku yang tidak sekedar memotret keakuan yang apa adanya seperti karya jurnalistik, ada kebanyakan orang kalah dalam menghadapi `masalahku’ maka dituliskan `aku’ dalam
cerita juga mudah kalah. Aku dalam sastra adalah aku yang multi dimensi cara dalam menghadapi permasalahan. Atau sebaliknya, permasalahannya yang begitu multidimensi. Dan dengan penjiwaan dan pengendapan aku yang demikian kompleks, pasti akan ada warna aku yang lain, sedang sejauh ini dengan aku dalam cerita-cerita Badri ia
telah dengan apik memotret aku dan aku dan aku dalam bingkai tertentu. Masalahnya, puaskah dalam hidup dengan aku aliran tertentu ini? Ataukah hidup bukan masalah puas atau tidak puas?*

BUNTELAN 2 - Perempuan Tidak Perlu Dibela

January 15th, 2007 by imajinerku

Perempuan tidak Perlu Dibela

Alida Wahyuni*

SEMBILAN cerita pendek dalam Buntelan (Q Publisher, Juli 2006), buku terbaru yang ditulis A Badri AQ T, memberi peluang bagi hadirnya dialog segar ten­tang tubuh, eksistensi perempuan, ataupun rela­si gender.

Soal-soal ini jelas bukan barang baru dalam khazanah cerpen Indonesia. Terutama bila kita menimbang bahwa para penulis perempuan yang jumlahnya terus bertambah, semakin bera­ni menulis soal perempuan dan penyimpangan seksual, dengan semangat merontokkan domina­si kaum adam di wilayah kehidupan rumah tangga, juga di tengah masyarakat luas.

Nama-nama seperti Ayu Utami, Djenar Mae­sa Ayu, Mariana Amiruddin, Laksmi Pamunt­jak, Ucu Agustin, dan Maya Wulan merupakan nama-nama yang tidak asing dalam konteks ini.

Di kalangan penulis lelaki, Badri juga bukan nama baru yang menunjukkan pemihakannya pada perempuan. Tapi lewat sembilan cerpen­nya dalam Buntelan, terlihat bagaimana ia tidak

larut ke dalam slogan-slogan kosung bahwa pe­rempuan adalah jenis manusia vang haknva da­lam konstruksi sosialharusdibela habis-habisan.

Badri justru menempatkan tokoh dalam ce­rita-ceritanya begitu rupa, sampai terpahami bah­wa lelaki selalu lemah menghadapi kenyataan hidupnya tanpa perempuan.

Dalam koteks ini, Badri secara implisit seperti ingin menegaskan bahwa kaum perempuan ti­dakperlu dibela habis-habisan oleh kaum lelaki, tetapi cukupmenjela,kan kenvataanhidup lelaki secara jujur. Ini saja sudah ~cukup menjawab, relasi perempuan dan lelaki merupakan relasi yang tidak bisa saling meniadakan satu sama lainnva.

Seperti dalam cerpen Sepasang Bola Mata yang Ditinggalkan di Sisi Meja Rias. Dalam cerpen ini dikisahkan bagaimana Aku harus hidup pon­tang-panting mengurusi perkembangan dua anaknya, Santo dan Santi. Istriya yang pergi entah ke mana, hanya meninggalkan dua bola matanya seukuran gundu, menjadi satu pukul­an berat bagi Aku. Ia harus mampu membangun omong kosong di hadapan kedua anaknva yang terus tumbuh besar.

Maka sang Aku selalu saja berkisah bahwa sang Ibu sedang bekerja di Arab Saudi sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Ini mungkin sekadar alasan di hadapan anak yang mudah dikelabui. Tapi, bagaimana Aku sendiri bisa menuntaskan kesepian tanpa istrinya adalah hal yang bagi pengarang tak ada jawabannya. Tokoh Aku di sini selalu berurai air mata setip kali menatap dua bola mata istrinya. Kesepian terus menikam­nya, tanpa tahu ia harus berbuat apa selain ber­mimpi dan berbohong.

"Aku tak tahu, apakah barusan aku tidur atau tidak. Pikiran dan perasaanku benar-benar se­dang terbelah. Untuk menjaga keselarasan komu­nikasi dengan kedua anakku, perlahan aku ter­senyum sambil membuka kelopak mataku seper­ti orang sedang mengintip sesuatu. Kedua anak­ku melepas tawa dari kelucuan yang aku buat­buat." (hlm.11)

Kelemahan lelaki lebih miris lagi dituliskan Badri secara ilustratif, seperti terjadi dalam cer­pen berjudul Matinya Elang di Ranggas Randu. Pertama-tama Badri mengilustrasikan lelaki la­yaknya burung elang yang terbang tinggi di angkasa dan nemplok di dahan pohon randu sambil menebar ancaman bagi mangsanya, ter­masuk burung pipit yang diilustrasikan di sini sebagai perempuan.

Namun dalam kisahnya, si Aku (burung pi­pit) yang berusia dua puluh tahun ini terus saja menimbang apakah ia harus menerima cinta lelaki berusia empat puluh dua tahun, mirip dengan usia bapaknya sendiri.

Kisah cinta terus berjalan antara dua insan yang berjarak usia jauh ini. Lelaki tua terus memaksa agar bisa menikahi perempuan itu. Di sisi lain, sang perempuan belum mau me­mutuskan, sebab ia masih mau menjalani masa indah pacaran. Lelaki tua merasa kehabisan langkah. Perempuan muda tetap pada pendir­iannya. Hingga suatu ketika, secara ilustratif kita menjadi paham bahwa cinta bagi perem­puan tetap tidak bisa dipaksakan oleh sesuatu di luar dirinva.

"Paginya aku terbangun. Kubuka jendela ka­mar, matahari menerpa dengan suasana keha­ngatan, dan bersamaan dengan itu hatiku berde­gup. Jarak pandang pertama yang selalu menga­rah pada tegar berdirinya pohon randu dengan rentangan dahan begitu indah bagi mata hatiku, kali ini kudapati meranggas tanpa kehijauan dedaunan lagi. Tidak seperti pagi-pagi sebelum­nya. Di dahan tak terlalu tinggi itulah, kudapati seekor burung elang mati kaku." (hlm 65)

Lebih menarik lagi sebagaimana terlukis dalam cerpen berjudul Buntelan. Judul cerpen yang ke­mudian diangkat sebagai judul buku ini, me­mang tampak memiliki keunikan narasinya. Bisa dikatakan di sini, cerpen Buntelan terdiri dari tiga sudut pandang dan tersusun dalam komposi­si yang beraturan.

Perspektif pertama dari Aku, dalam hal ini lelaki yang berhasil menerapkan strategi seksual­nya demi memuaskan nafsu sesaat. "Begitulah. Tanpa aku harus menunggu suara tokek, yang menghitung-hitung di suara akhir untuk melakukan atau tidak melakukan, tak kupedulikan lagi itu semua. Maka, sebagaimana yang kuingin­-ingini, sebegitu saja kupetik sari perempuan yang semalam tidur bersamaku. Aku tak peduli, apakah perempuan itu menikmati seperti apa yang kunikmati dalam petualangan asmara yang tak tertahankan lagi." (hlm 29-30)

Perspektif kedua dari Aku, dalam hal ini pe­rempuan yang dipetik sarinya namun melaku­kan pemberontakannya sendiri. "Begitu pun air mataku, air mata seorang perempuan yang men-

jerit hatinya, taklagi berfaedah keluar di sela-sela kelopak mataku. Lantas untuk apa bila lautan surgawiku ini hanya jadi impian lelaki nakal yang ingin menyalurkan hasrat-hasrat kelelaki­annya, lantaran aku mau tidur di sisimva." (him 37-38)

Perspektif ketiga dari Dia, narator yang berusa­ha menghamparkan dua perspektif berlawanan dari peristiwa persemaian cinta persetubuhan dan pemberontakan yang terjadi antara seorang lelaki dan seorang perempuan, yang sebelumnya telah dibebaskan membangun perspektifnya ma­sing-m asing.

Cerpen-cerpen yang ditulis Badri memang me­nampilkan tokoh-tokoh yang pada gilirannya me­nukik pada pencitraan perempuan modern. Kare­na itu, sosok perempuan yang tegar di atas lang­kahnya selalu terjadi di sana-sini.

Tokoh-tokoh perempuan yang hadir dalam cer­pen-cerpen Badri, dengan kata lain, merupakan tokoh-tokoh yang sudah menganggap usang bah­wa kaum lelaki adalah golongan manusia yang harus selalu dipuja dan ditakuti. Sebaliknya, to­koh-tokoh cerpen di situ malah saling menginsyafi keniscayaan gender, agar dapat menerangi kehi­du.pan dunia ini dengan damai, cinta, dan saling pengertian.

Akhirnya, kaum lelaki tak perlu membela kaum perempuan, juga sebaliknya, bila hanya melahir­kan pahlawan kesiangan. Sebab bila kejujuran dan saling pengertian sudah terjadi antara kaum lelaki dan perempuan, kisah dominasi pun tak lagi ada. Penindasan berbasis gender pun usang dengan sendirinya.

• Alida Wahyuni adalah dosen

di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE)

Ahmad Dahlan, Jakarta.

PELAFALAN PUISI

April 12th, 2006 by imajinerku

LET’S ROCK THE CYBER

Disela acara diskusi novel "Let’s Rock The Cyber" karya Yunis Kartika, penulis muda dari Bandung, di Kansas (Kantin Sastra) UI Depok pada Rabu. 12 April 2006, di sela itu pula aku melafalkan salah satu karyanya, yakni berupa puisi."kukenal kau lewat malam" begitu nama kumpulan puisinya yang pertama yang kemudian disusul "Let’s Rock The Cyber, berupa novel, terbit Maret 2006. Adapun judul puisi yang aku lafalkan adalah "Kisah Mertua Malang". Dua karya bukunya itu memang sengaja di gerilnya di beberapa tempat, bagian dari upaya penulisnya untuk mendekatkan kepada calon-calon pembacanya. Hehehe…aku sih seneng aja, bila Penulisnya tetap berkenan mengajakku melafalkan karya-karya di beberapa tempat. Hitung-hitung ibadah budaya.

LAFALISASI CERPEN

April 1st, 2006 by imajinerku

"SOL DEMI SOL" sebuah cerpen karya Rahmat Ali, telah aku lafalkan dalam acara "PESTA KARYA RAHMAT ALI" di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan, (27/3/06) Cerpen tersebut terangkum dalam kumpulan cerpen+puisi "Bigayah Sambalnya Hmm…mm" terbitan Majas Jakarta, 2005.

Pelafalan cerpen ini telah aku lakukan di berbagai tempat dari sejumlah cerpen dan pengarang Indonesia. Ini adalah upaya apresiasi dalam konteks panggung dengan mengangkat karya-karya sastra.

Kutu Bandel Folk Song Di Malam Hari

April 1st, 2006 by imajinerku

Cover_ugo_1

KUTU BANDEL FOLKS SONG DI MALAM HARI

Jejak Sajak UGO HARYONO

Penerbit: Q Publisher - 2005

Jalan Panjang Menyelamatkan Potensi Puisi

P

ertemuan seseorang dengan puisi bisa berlangsung jauh sebelum dia dilahirkan. Ketika masih dalam kandungan sang ibu, janin sudah menerima banyak hal tentang hidup, dan mungkin sudah mendengar puisi dibacakan atau dinyanyikan. Janin dan bahkan sang ibu sendiri mungkin tak menyadari bahwa puisi sampai kepada sang janin dengan berbagai cara: dibacakan, dinyanyikan, dibisikkan lewat radio, televisi dan lain-lain. Seorang ayah mungkin membisikkan doa untuk sang janin di perut istrinya. Doa itu adalah puisi. Seorang ibu berbicara dalam suara lirih dengan janin yang dikandungnya. Suara lirih itu adalah puisi. Dalam arti itulah, sang janin sesungguhnya sudah berkenalan dengan puisi jauh sebelum dia bisa mengerti puisi itu sendiri.

Maka setiap   orang  sesungguhnya mengandung puisi di dalam dirinya. Setiap orang dengan tidak bisa lepas dari puisi dalam hidupnya. Bahkan ketika seseorang meninggal dunia, dia akan diantar keperistirahatan terakhirnya dengan puisi : pidato pelepasan yang sedih dan penuh haru, tentu juga doa. Tentu saja, puisi dalam diri seseorang pertama-tama adalah potensi, yang sekurang-kurangnya akan bekerja secara pasif. Potensi itu akan berkerja secara pasif, karena potensi tersebut ada dalam diri seseorang, maka perasaan, hati, dan pikirannya akan tersentuh atau tergetar oleh puisi. Dan potensi itu juga bisa secara aktif: menyentuh dan menggugah hati orang lain dengan kekuatan puisi.

Sudah tentu puisi pertama-tama     dengan kata-kata. Dalam menggunakan kata-kata, berbicara atau menulis itulah seseorang selalu menimbang cara mengungkapkan perasaan dan pikirannya dengan prinsip-prinsip puisi: memilih kata sebaik mungkin, mengunakan kata seindah mungkin, menyusun kalimat seefektif mungkin. Tak ada orang tak menimbang pilihan kata saat berbicara atau menulis. Kesadaran menimbang pilihan kata saat berbicara atau menulis  adalah refleksi dari kesadaran seseorang akan potensi diri dalam dirinya.

Hanya saja, tidak semua orang menyadari bahwa di dalam dirinya  ada potensi puisi, yang sudah tertanam bahkan mungkin jauh sebelum dia dilahirkan. Maka tidak semua orang dengan sadar merawat potensi tersebut. Kebanyakan orang bahkan mungkin acuh tak acuh akan potensi puisi di dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu, potensi puisi dalam diri seseorang seringkali terancam: terabaikan, tak terawat, sia-sia.

Ugo Haryono adalah tanda bahwa potensi puisi dalam diri seseorang mesti dise-lamatkan. Dia sendiri tidak memilih penyair sebagai profesi, profesi mana akan membuat seseorang secara sadar memupuk dan mengembangkan terus menerus potensi didalam dirinya. Ugo Haryono adalah seorang pelukis yang sadar akan potensi puisi  didalam dirinya, dan karena itu dia tidak mengabaikannya, tidak menyia-nyiakannya.

Bahkan, meskipun tidak memilih profesi penyair, dia tidak membiarkan potensi puisi dalam dirinya sekadar bekerja pasif, melainkan juga bekerja secara aktif. Puisi-puisinya yang terhimpun dalam buku ini adalah bukti perjalanan panjang Ugo Haryono dalam berupaya membuat potensi puisi dalam dirinya bekerja secara aktif: mencatat gejolak hati, pikiran dan perasaannya dalam kata-kata, di satu dan lain tempat, dari waktu ke waktu.***

Jamal D. Rahman

Penyair